1. Makam Kyai Demak Ijo

Di daerah Banyumeneng, terdapat makam yang diduga merupakan makam kuno kyai Demaik Ijo. Kyai Demak Ijo merupakan sosok keturunan dari Ki Agung Mangir Makam ini menjadi kepercayaan bahwa dahulu Kyai Demak Ijo pernah bertempat tinggal di daerah Banyumeneng hingga meninggal. Menurut arkeolog, makam yang berada di sebelah kiri utara merupakan makam berukuran besar untuk kyai. Sedangkan, makam yang berada sampai makam kyai merupakan makam nyai-nya.

2. Mbah Juru

Mbah Juru merupakan salah satu sosok terdahulu penasihat untuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Mbah Juru sangat terkenal di masyarakat Banyumeneng karena kejawen yang ia ikuti. Hal ini dibuktikan semasa hidupnya, mbah Juru sering menghadiri atau didatangi masyarakat dalam berbagai kegiatan sebagai ruwahan dan sebagainya. Selain itu, Mbah Juru merupakan pencetus dari adanya tradisi Suran Mbah Demang yang berada di wilayah Banyumeneng. Dahulu, terdapat seorang Demang yang berada di jalan Godean tepatnya daerah Demak Ijo. Orang tersebut terkenal dengan kedermawanan dan memiliki tingkah laku baik. Tujuan Mbah Juru mengadakan suran Mbah Demang yakni mengingat kebaikan dan tingkah laku baik yang dimiliki oleh Mbah Demang agar masyarakat memiliki kelakuan seperti Mbah Demang. Setiap tanggal 7 suro atau malam 8 suro, diadakannya tradisi kirab Suran Mbah Demang. Kirab ini dilakukan dengan membawa uborampe dan meminjam barang Mbah Demang untuk diserahkan kepada keluarga Mbah Demang.