Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Abdul Kadir (Kepala Desa Banyuraden) pada tanggal 1 Desember 2000 dan cuplikan dalam buku dengan judul Tradisi Suran Mbah Demang Dusun Modinan, oleh Wahyudi dapat diceritakan tentang riwayat Demang tersebut sebagai berikut :
Tersebutlah Bekel bernama Cokrojoyo yang mempunyai anak bernama Asrah, yang dikenal sebagai seorang anak nakal. Kemudian oleh orang tuanya Asrah diikutkan kepada Demang Dowangan yang diberi tugas mengembalakan itik dimana setiap pulang harus membawa satu ikat kayu bakar, yang dikandung maksud untuk memberi pelajaran yang berat kepada Asrah karena kenakalannya. Semua perintah Ki Demang Dowangan itupun dilaksanakan oleh Asrah tanpa merasa berat.
Pada usia aqil balik Asrah bertapa di rumah Pak Penatu selama satu bulan. Ketika tapanya mencapai satu bulan banyak orang mengira Asrah sudah mati, kemudian mulutnya ditetesi dengan cairan kanji dan cairan kanji tersebut oleh Asrah diminum. Hal ini menandakan bahwa Asrah masih hidup.
Ketika bertapa asrah bermimpi bertemu dengan dua orang yang berpakaian seperti haji, orang tersebut memberi kitab kecil. Setelah bangkit dari tapanya Asrah kemudian mencari kitab yang datang dalam mimpinya itu yang akhirnya kitab tersebut ditmukan ditepi Sungai Bedog. Dengan memiliki kitab tersebut Asrah menjadi orang yang sangat sakti, ia bisa menyeberang Sungai Bedog yang sedang banjir bahkan mampu menghalau penjahat yang pada waktu itu banyak merusak perkebunan milik orang Belanda.
Pada suatu hari Tuan Dolog seorang Sinder Tom mengumumkan sayembara yang isinya siapa dapat memberantas kejahatan di daerah sekitar Kali Bedog dan Kali Bayem akan dijadikan Mandor Perkebunan. Pada waktu itu tidak ada satupun Bekel di daerah tersebut yang mau mengikuti sayembara tersebut karena mereka tahu penjahat di daerah tersebut sangat sakti.
Asrah sebagai anak muda merasa ditantang oleh keadaan, kemudian menyanggupi untuk memberantas kejahatan. Pada awalnya para Bekel dan Tuan Dolog tidak percaya akan kekuatan yang dimiliki Asrah, karena Asrah hanya dikenal sebagai anak muda ugal-ugalan dan nakal, maka Tuan Dolog dengan terpaksa menerima tawaran tersebut yang akhirnya dengan segala cara dan kekuatan yang dimiliki Asrah dapat menghalau segala kejahatan yang terjadi di daerah tersebut sehingga akhirnya Asrah diangkat menjadi Mandor Tom.
Pada suatu saat terjadi kemarau panjang sehingga perkebunan tebu di daerah demakijo menjadi kering, maka pihak pabrik gula dalam hal ini Pemerintah Hindia Belanda mengadakan sayembara untuk mendatangkan hujan agar tebu yang kering dapat hidup kembali. Pada waktu itu tidak seorangpun berani mengikuti sayembara ini karena memang hal itu tidak mungkin disamping sayembara ini merupakan politik dari Pemerintah Hindia Belanda untuk memanfaatkan kepandaian mandor Tom Asrah.
Dengan segala kekuatannya Asrah memohon kepada Sang Pencipta untuk dapat mengabulkan permohonannya, karena permohonan tersebut baginya dianggap pertolongan bagi para petani yang kekeringan sehingga akan kelaparan disamping itu untuk memenuhi tantangan pihak pabrik guna mendatangkan hujan supaya menghidupi tanaman tebu.
Pada saat gara-gara apa yang dimohon Asrah benar-benar terjadi, dimana sejak saat itu terjadi hujan tiga hari tiga malam sehingga daerah yang semula kering menjadi tumbuh kembali tanamannya karena tersiram air hujan.
Setelah menjadi Demang, Asrah berganti nama Cakradikrama atau dikenal dengan sebutan Demang Cakradikrama. Semua keberhasilan Ki Demang tersebut dilandasi segala usaha yang dilakukannya yaitu setiap sore melaksanakan tapa bisu mengelilingi rumahnya dan setaip hari Ki Demang tidak makan garam. Selain itu Ki Demang juga melakukan laku dengan mandi setahun sekali yaitu tiap malam menjelang tanggal 7 Suro bertempat di sumur belakang rumahnya.
Ki Demang dalam menenteramkan daerahnya tidak memaknai cara kekerasan tetapi berbuat baik, menolong orang yang sedang kesusahan atau menderita, selalu memberi contoh yang baik dan juga Ki Demang selalu memberi hidangan makan kepada orang yang datang ke rumahnya.
Kebiasaan memberi makan dilestarikan oleh anak cucunya yang kemudian dikenal dengan istilah tradisi pembagian Kendi Ijo, sedangkan wujud Kendhi Ijo itu adalah nasi yang dilengkapi lauk berupa sayur tholo dan gudangan bumbu tumbuk yang dibungkus dengan daun pisang yang berwarna hijau. Disamping itu setiap pagi meninjau perkebunan Ki Demang selalu membawa uang sebesar 50 sen dan uang ini akan dibagikan kepada anak-anak kecil yang ditemui.
Beberapa Besan Ki demang Cakradikrama yang disampaikan kepada anak cucunya yaitu “luwih becik menehi tinimbang diwenehi utawa njaluk, tangan kuwi luwih becik mengkure[ tinimbang mlumah, sapa sing ngeimbuhi bakal ditambah lan sapa sing ngurangi bakal disuda” (lebih baik memberi dari pada diberi atau meminta, tangan itu lebih baik telungkup dari pada tengadah, siapa yang menambah akan ditambah dan siapa yang mengurangi akan dikurangi).
Sampai saat ini beberapa pesan Ki Demang tersebut tetap dijunjung tinggi oleh anak cucunya dan sebagai bentuk penghormatan serta untuk melestarikan nilai-nilai luhur ajaran Ki Demang setaip bulan Suro diselenggarakan acara SURAN dengan puncak acara pada tanggal 7 suro dengan mandi tengah malam menjelang tanggal 8 suro di sumur belakang rumah Ki Demang.