Petak umpet merupakan salah satu permainan tradisional yang telah berumur ratusan tahun, bahkan ribuan tahun. Pada abad ke-2, seorang penulis Yunani menulis tentang permainan yang disebut apodidraskinda. Permainan itu mirip dengan petak umpet yang kita kenal sekarang. Petak umpet adalah sejenis permainan mencari teman yang bersembunyi, bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun jika semakin banyak akan semakin seru.
Di berbagai dunia, permainan petak umpet mempunyai nama berbeda, sesuai dengan bahasa di negara masing-masing. Misalnya el escondite (Spanyol), jeude chache cheche (Prancis), sumbaggoggil (Korea Selatan), hide and seek (Inggris). Begitu juga dengan di Indonesia, nama permainan Petak Umpet juga berbeda di setiap daerahnya. Misalnya di Sunda dikenal dengan Ucing Sumput, di Jawa dikenal sebagai Dhelikan/Jepungan/Jethungan dan masih banyak lagi.
Cara Bermain
• Permainan petak umpet ini dimainkan oleh lebih dari 3 orang, diawali dengan hompimpa untuk menentukan siapakah yang akan menjadi ‘kucing’ (pencari temantemannya yang sedang bersembunyi). Si Kucing ini nantinya akan menutup mata sambil bersandar di hadapan tembok, pohon, atau di mana saja agar ia tidak dapat melihat temannya yang sedang bersembunyi.
• Si Kucing tersebut menghitung dari satu sampai sepuluh atau bisa lebih, sampai teman-temannya selesai bersembunyi. Setelah teman-temannya mendapatkan tempat persembunyian, barulah si kucing (pencari) beraksi dengan meninggalkan tempat jaganya sembari menemukan teman-temannya yang telah bersembunyi.
• Jika si “kucing” menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh INGLO atau BON atau HONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si “kucing” dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal.
• Pada saat si “kucing” bergerilya menemukan teman-temannya yang bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai “target operasi” atau belum ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG, jika berhasil menyentuhnya, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si “kucing” dibebaskan, alias sandera si “kucing” dianggap tidak pernah ditemukan, sehingga si “kucing” harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.
• Permainan selesai setelah semua teman ditemukan dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.